A Man And His Darkside: 7 Lagu Dengan 7 Gitar Dan 1 Gitar Merangkap Bass, Sensasional


Cover art Nonot

image: Cover Art “A Man And His Darksie”.

Portalmusikmalang.com – Mengupas sisi ‘gelap’ salah satu sosok gitaris terkenal asal malang dari band yang terkenal pula, Nonot Predator. Baru-baru ini, nonot sukses merilis album solonya yang bertajuk NO2T “A Man And His Darkside”, sebuah album instrumental yang didominasi permainan gitar dari gitaris band bergenre grindcore, Predator. Yang menjadi pertanyaan, apakah album solonya ikut beraroma ‘Grauk-Grauk’ (meminjam istilah sebutan) ?? Dalam obrolan ringan kami dengan pria gondrong tersebut rasa penasaran terjawab sudah.

“A Man And His Darkside” merupakan sebuah album yang menceritakan sosok sang lakon itu sendiri, yakni sisi gelap dari seorang Nonot, apakah itu?? tahan dulu pembaca. Menghabiskan waktu sekitar 6 bulan lamanya untuk menuntaskan sebuah album yang berisikan 7 Track List yang digarap di Studio Didik KSG, Malang.

Keseluruhan komposisi musiknya diracik sepenuhnya oleh nonot tanpa melibatkan peranan music director, kecuali ada satu lagu yang berjudul ‘Mancing Di Tamban’ hasil racikan bersama Bobby gitaris dari Komik/Teamlo.  Lagu yang menceritakan tentang nikmatnya dunia perpancingan ini dikemas dalam balutan aransemen Jazz. Nah, inilah updaters yang dianggap nonot sebagai ‘Sisi Gelap’ dalam album “A Man And His Darkside”. Nonot yang selama ini identik dengan musik metal yang sudah kadung melekat terhadap dirinya, mencoba sebuah aktualisasi diri,  mengistilahkan proyek album ini sebagai bentuk apresiasi, “Bahwa saya bisa mainin musik jazz, rock, pop ini yang saya maksud dalam album perdana saya”, ujar Nonot. Karena di band saya, Predator nggak mungkin kan saya membuat lagu seperti itu?? teman-teman di Predator bahkan juga mendukung keluarnya album tersebut, mereka respek banget.

Nonot A Man And His Darkside

image: Nonot ©facebook.com

Saat awal penggarapan nonot menceritakan, sempat mengalami fase kebuntuan, terutama saat-saat memasuki aransemen pada lagu terakhir, yang berjudul ‘Insomnia’, seperti yang ia sampaikan “Saya dilagu ini mentok banget, nggak tahu harus saya buat seperti apa saat itu, sempat kesulitan di pembuatan intro dan ending”,  ujarnya.

Album yang dicetak sejumlah 200pcs untuk produksi awalnya ini banyak memunculkan cerita menarik. Seperti saat pembuatan lagu yang berjudul “Paint From The Past”, proses penggarapanya tanpa melibatkan bassis. Kok bisa..?? Ya, karena untuk lagu tersebut, konfigurasi gitar Nonot sudah berasa sound low nya, pada senar 1-3 menggunakan ukuran 0,12 dan senar 4-6 menggunakan senar bass. Jadi mainin gitar seakan sambil mainin bass juga. Begitu juga dengan track berjudul “Homo Homini Lupus” menceritakan kisah teman yang suka makan teman.

Ke tujuh track dalam album ini, murni diangkat dari kisah pribadi nonot dalam kehidupan sehari-harinya. Contoh lain,  karena Nonot juga mempunyai hobi memancing, maka terciptalah track berjudul “Mancing di Tamban”. Begitu juga dengan sebuah track yang cukup easy, bertajuk “Simple Love That Finished” yang merupakan kisah tragis perihal kehidupan percintaanya, bisa updaters dengarin dibawah untuk sampel lagunya. Nonot menganggap, album “A Man And His Darkside” bukanlan proyek komersial, “Album ini saya cetak 200pcs untuk dibagikan secara gratis…tiss…”, ujarnya.

Yang paling ‘mengerikan’ dari obrolan kami, ternyata updaters…, dalam pembuatan album tersebut nonot menggunakan 7 buah gitar sekaligus. Nggak main-main rupanya si doi satu ini. Kerenya gaes…, tiap satu lagu dalam album ini digarap dengan 1 gitar yang beda pula. Jadi track 7 lagu ini di buat dengan 7 gitar yang berbeda seri namun satu merk. Alasanya..?? karena dalam tiap aransemenya mempunyai ‘taste’ musik yang berbeda pula, maka dari itu gitarnya pun juga menyesuaikan dengan kebutuhanya saja.

Apresiasi luar biasa diperoleh nonot ketika album ini pertama kali dirilis/ launching tanggal 10 Juni 2015 di sebuah kafe dimalang, melibatkan para gitaris-gitaris muda yang didaulat sebagai pembuka dalam mini konser tunggalnya. Banyak yang tidak menyangka, ternyata nonot mampu memainkan musik diluar genrenya yang selama ini dia ‘anut’ begitu yang ia sampaikan kepada kami. Respon lainya, jaringan yang juga merupakan teman dari nonot seperti di sumatera dan kutai sangat antusias sekali dengan keluarnya album perdanaya.

Bahkan, setelah acara launcing tersebut, nonot mendapat apresiasi lebih dari beberapa kawan dan rekan untuk menggandeng dalam bentuk promo lainya, yakni Road Cafe to Cafe dan Goes To School. Seperti yang disampaikan “Jujur, sudah ada 15 SMP dan SMA semalang yang tetarik, jadi nanti konsepnya ada klinik gitar, juga bercerita tentang seputar gitar, saya bekerja sama dengan guru seni musik dan mereka malah sudah gak sabar nunggu”, ujarnya penuh yakin.

Apakah nonot sudah merasa puas dengan albumnya?? ternyata belum updaters, “ngomongin puas sih belum, masih perlu banyak yang saya cari disini”, ujar pria bertato tersebut. Di album ini saya dilatih untuk sabar, bagaimana cara mencari sebuah solusi dan perihal racik-meracik ala teh tarik hehehehe.

“Saya tetap butuh sosok kritikus seperti dari pengamat musik, kelak untuk next album mungkin saya bakal membutuhkan seorang music director untuk memudahkan kinerja saya dalam merangkum ide-ide segar yang ada”, ujar nonot.

Pada awalnya album ini menggunakan titel “Simple A Man And His Darkside”. Cuman ada teman saya nggak setuju, karena saya dianggap gak sesimple sesuai dengan tema album ini. “Tapi jujur aja, kalo didengarin semua, sebenarnya album saya ini cukup simple bange’, ujarnya menutup obrolan dengan sosok pria yang terlihat sangar tetapi cukup humble. Sukses brader…!! <Er/y>.

Sample Song – Simple Love That Finised –


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |