Dari Mana Asal Usul Notasi? ini Jawabannya


asal usul notasi

Rangkaian Notasi (sumber; google)

Portalmusikmalang.com – Bagi pendengar musik, kata Notasi adalah hal yang sudah umum dan tak asing lagi. Kita bahkan sudah pernah mempelajari hal notasi sejak duduk di bangku sekolah dasar, di ajarkan oleh guru lewat mata pelajaran kesenian. Namun, pernahkah terlintas dalam benak anda, dari manakah asal-usul notasi itu sendiri.??

Dari berbagai sumber yang kami peroleh, salah satunya dilansir dari wikipedia, 1400 sM di Ugarit, Syria telah ditemukan beberapa tulisan persegi yang menyanyikan lagu-lagu dalam bahasa Huri, disertai sejenis notasi, namun tidak berhasil ditiru dan di nyanyikan ulang. Begitu juga tidak ada kepastian apakah bangsa Ibrani mempunyai suatu sistem notasi..??, memang telah di usahakan untuk menafsirkan tanda-tanda tekanan suara dari naskah Ibrani, sebagai bentuk notasi, tetapi ternyata tidak berhasil, sebab tanda-tanda tekanan suara itu lebih diperuntukan untuk mengucapkan daripada untuk musik, disamping itu tanda-tanda tersebut merupakan tambahan yang dibuat dari karya aslinya.

Dengan tidak adanya notasi musik yang dibakukan ataupun yang bisa ditulis, kita tidak akan bisa menyebar luaskan satu karya musik ataupun mewariskannya ke generasi penerus. Karena adanya notasi musik inilah, maka hingga saat ini kita masih bisa tetap menikmati hasil karya dari Bach, Mozart maupun Beethoven. Siapa sebenarnya pencetus ide dari notasi musik barat modern seperti yang kita kenal sekarang ini? Pada abad ke sebelas (995-1050) seorang rahib dari ordo Benediktin yang bernama Guido dari Arezzo berusaha mengajarkan kepada siswa-siswinya untuk menghafal nada-nada dari c-d-e-f-g-a.

Karena ia sudah hafal dan sudah akrab di telinganya dengan “Ut Queant Laxis”, lagu Nasrani tentang Yohanes, maka ia menciptakan alat nemonis: UT-queant laxis RE-sonare fibris MI-re gestorum FA-muli tuorum SOL-ve pollutis LA-biis reatum Sancte Iohannes Suku kata asli dari kata-kata ke-enam ungkapan ini telah bisa dijadikan nama nada: ut, te, mi, fa, sol, la. Hingga saat ini kita masih menggunakan sistem ini, hanya untuk kata UT telah dirobah menjadi DO dan setelah La masih ada tambahan Si. Guido dari Arezzo inilah yang membebaskan ketergantungan manusia pada abad sebelumnya daripada tradisi oral yang turun menurun diwariskan. Karena adanya nada notasi musik inilah maka umat manusia sekarang ini bisa memiliki harta simpanan yang sangat besar berupa ratusan ribu karya musik mulai dari karya musik yang berat, sampai ke lagu-lagu yang sederhana sampai dengan simfoni-simfoni yang rumit.

Hasilnya pun bermanfaat, lewat notasi ini, musik mulai bisa ditulis dan diajarkan dari lembaran musik, teori musik pun bisa diikuti melalui notasi dengan mana lebih mudah untuk mempelajari sebuah lagu maupun instrumen dari musik, dan mulai saat itu pula polifoni (lebih dari satu irama yang bisa dimainkan bersamaan) begitu juga dengan menciptakan keharmonian dalam nada musik maupun lagu. (ery/c1/sip).

Sumber artikel; Wikipedia & Bengkelmusik.


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |