Eksplorasi Trio Sabbe Satta Berujung Pada Suatu Titik


Sabbe Satta mei 2017

Sabbe Satta (doc)

Portalmusikmalang.com – Adalah Budi Wicaksono (Pedo), sosok yang tidak bisa lagi dianggap muda pun tidak cukup dibilang tua untuk tetap mewujudkan karyanya dalam musik. Kecintaanya pada musik grunge membuat rasa haus untuk berkaryanya tidak pernah habis. Dengan bendera Frogstomp, ia sempat ikut meramaikan skena seattle sound Malang di awal 2000-an. Namun, karena kendala klise yang pasti dialami juga oleh setiap band, Frogstomp bubar tanpa satupun jejak rekam pada saat itu.

Tumbuh dewasa Pedo tahu kalau grunge bukan hanya tentang Nirvana, Cornell atau Vedder. Berangkat dari itu ia mencoba kembali eksis dengan mengajak adik kandungnya, Alomo pada bass dan Bejo yang mengisi posisi drum dan membentuk sebuah bendera baru bernama Sabbe Satta. Terinfluence dari banyak band dari banyak kepala, tak terhitung berapa kali Sabbe Satta melakukan eksplorasi musik untuk menemukan karakter mereka.

Hingga akhirnya mereka berhenti di suatu titik. Karakter stone ala Alice in Chains atau Soundgarden diramu dengan bumbu post-metal dan sludge ala Melvins yang bertubrukan dengan idealis kacau (mengusung nama Sabbe Satta yang sangat Nirvana-isme tapi juga menghamba Jonsi dan Damon Albarn) dari Pedo sendiri.

Terhubung dengan visi bahwa musisi tidak pernah berhenti berkarya, apapun keadaanya Sabbe Satta akan mencoba untuk terus meramu materi. Mungkin sampai Beethoven kehilangan gigi atau Cobain menembak kepalanya dua kali. Karena mereka percaya bahwa tubuh mungkin mati tapi cipta tetap abadi. (pr).


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |