Evolusi Tani Maju, Oleh-oleh Khas Malang dari “Kampung Artist”


tani maju instagram

Tani Maju (doc; Ig @tanimaju.stanley)

“Bicara tentang Tani Maju berarti mundur 17 tahun ke belakang, saat sekumpulan anak muda dari UKM Sanggar Minat iseng-iseng membuat grup akustik yang akhirnya menjadi sebuah band dengan format Out-of-the-box, sebuah sudut bernama “Kampung Artist” di dalam kampus yang didapuk sebagai kampus pencetak para pendidik, dan Jogeder (sebutan fans Tani Maju). Oh ya, dan satu lagi, CASTOL.”

Saya ingat waktu itu. Saat saya kelas 6 SD dulu, siang-siang sepulang sekolah, HP Nokia 6600 milik kakak sepupu saya lagi nyetel sebuah lagu dari aplikasi UltraMP3 yang menurut saya “too bizzare to be true”. Bagaimana ada lagu tentang LEM. Iya, lem dan akhirnya “nyerocos” ke mana-mana sampai bahas-bahas CD-ROM, tambal ban tubles, dan men-translate istilah-istilah tersebut dan lainnya seenaknya-tidak menghitung backing vocal fals di beberapa part.

Castol. Beberapa sumber tertulis “Casthole”, lagu yang menurut saya “terlalu khayal untuk ada”. Bagaimana intro drum yang tak “lazim”, lalu jimbe, ketipung, ukulele dan…TEROMPET TAHUN BARU? IYA. Ada sebuah instrumen 1 nada dan dipaksakan masuk ke dalam komposisi bernama “Castol” tersebut dan itu, menurut standar musisi kebanyakan BUKANLAH sebuah alat musik. Pertanyaannya, siapakah atau lebih tepatnya, BAND APAKAH yang “sampai otak dan hati” kepikiran membuat lagu seperti itu? Dan saya hanya tahu namanya: Tani Maju.

Tani Maju. Sering disingkat TM, merupakan unit musik yang terbentuk tahun 1999 (iya, mereka tua) yang awalnya adalah sebuah grup akustik dari UKM Sanggar Minat (Samin). Tani Maju yang sekarang digawangi oleh Mas (mungkin Om) Novan pada vokal, Sri Wahyudi di vokal 2, Wakidjo “Djoni” di gitar, Agus Fauzi pada ukulele, Kus Teguh “Sinyo” di drum, “Leo” Zaini di ketipung, Wibi di bass dan Ervin “Pleki” pada keytar dan backing vocal. Seperti band-band kebanyakan (atau mungkin memang ikut-ikut band kebanyakan), TM juga pernah bongkar pasang personel; tercatat ada Om Hendro, Om Afik dan Om Galih yang pernah mewarnai grup ini dulu. Sebagai tambahan informasi, SEMUA personel (dan mantan personel) dulunya adalah MAHASISWA UM. Kecuali mas Sinyo yang dari fakultas Teknik, semua personel TM berasal dari fakultas Sastra (yang dulunya bernama FPBS). (dan saya tidak tahu mengapa sampai sekarang mereka belum diliput/ diabadikan di majalah Komunikasi UM)

TM pada awal kemunculannya terkenal dengan lirik-liriknya yang “kelewat nalar” dan juga “kostum” mereka. Bila anda beruntung hidup di era 2000-an kemarin dan melihat TM (kalau tidak, bisa berkunjung di Youtube), anda akan menemukan sosok-sosok “tak normal” di atas panggung. Ada yang memakai boxer, macak badut, warna warni lengkap dengan aksesorisnya dan sebagainya itu. Sekarang, Tani Maju telah “ber-evolusi” dan memutuskan untuk tampil “lebih sopan” baik dari segi penampilan maupun lirik-liriknya (mungkin karena sudah relatif tidak muda juga). Lirik-lirik Tani Maju yang sekarang cenderung lebih nyastra, tetapi tetap to the point dan tidak banyak simbolisme. (setidaknya sampai surealis seperti banyak band-band folk yang lagi nge-trend akhir-akhir ini)

Secara komposisi chord, sebenarnya progresi akord Tani Maju bisa dibilang “cukup sederhana” (setidaknya tak sebanyak orang-orang di atas panggungnya). Progresi-progresi I-vi-IV-V (kalau di G menjadi G-Em-C-D) seperti di lagu “Cewek Sialan”, atau progresi abadi Am-Dm pada komposisi “Berdikari” (yang sangat ingin saya cover) seakan cerminan dari progresi “sejuta umat” musik Pop kebanyakan.

Meskipun secara progresi akord bisa dibilang kelewat “sederhana”, namun menurut saya sumber “kenikmatan” menganalisa musik TM adalah pada instrumentasinya. Pemanfaatan instrumen yang bisa dibilang banyak untuk ukuran sebuah grup musik. Permainan sinkopasi yang blend TANPA terlihat “ruwet” adalah satu dari beberapa hal yang bisa “dicuri” dari band legendaris ini. Apa implikasinya? Implikasinya adalah setiap instrumen dari TM seperti mempunyai “ke-khas’an” masing-masing; mempunyai part sendiri. Ini adalah satu dari beberapa hal yang menurut saya challenging bila anda ingin meng-cover lagu-lagu Tani Maju. (Oh, dan jangan lupa pattern drum aneh dari Mas Sinyo juga)

Berdiri sejak tahun 1999 dan ratusan show di mana-mana serta 3 album yang telah ditelurkan adalah bukti dari eksistensi sebuah unit bernama Tani Maju. Kiprah TM dalam dunia permusikan Indonesia dan Malang pada khususnya turut menginspirasi beberapa band untuk mengadopsi format mirip dengan TM; baik dari segi musik, gaya dan serta lirik-liriknya. Unit orkes yang sedang naik daun, Tahu Brontak bahkan terang-terangan mengakui bahwa Tani Maju merupakan inspirasi terbesar mereka dalam bermusik. “Without TM, We’re Nothing”, spanduk yang dibawa oleh mereka saat menghadiri ultah TM ketujuhbelas kemarin mengisyaratkan bahwa TM sudah menjadi inspirator dalam kegiatan bermusik mereka.

Tani Maju merupakan band legendaris. Iya, saya mengamini hal ini. Kiprah mereka yang tidak bisa lagi dihitung dengan jari adalah tanda bahwa band ini bukanlah band “sembarangan”. Dimulai dari bangku kuliah, lulus, hingga sekarang masing-masing telah berkeluarga dan menetapkan prioritas hidup masing-masing, mereka masih dan terus band-band’an sampai saat ini.

Pada akhirnya, pencapaian dan semua hal tentang Tani Maju sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menaruh nama Tani Maju ke dalam satu tinta emas sejarah musik Malang atau bahkan Indonesia. Menginspirasi banyak band lain, menjadi salah satu ikon kota Malang di samping Arema serta keinginan untuk terus berkarya agaknya sudah lebih dari cukup untuk menyebut bahwa Tani Maju adalah inspirator, warisan serta legenda hidup musik Malang. (pr).

Notes; Artikel diambil dari terbitan Peka Zine edisi ke.4

Info Terkait


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |