John Arif, Sang Penabuh Kendang


Portalmusikmalang.com – Beberapa waktu lalu kami menerbitkan artikel mengenai seorang pemain kendang asal Malang yang mewariskan satu set kendang miliknya untuk Museum Musik Indonesia. Sebuah kendang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Merupakan aset budaya bangsa yang harus dilestarikan dan dipelihara demi terjaganya budaya negeri. Itulah salah satu alasan John Arif menyerahkan kendang yang telah membuatnya jatuh cinta kini.

Siapa sosok John Arif tersebut. Bagaimana kiprahnya? dan awal mula ia menekuni instrument kendang itu?. Kali ini adalah lanjutan dari artikel yang sudah kami terbitkan sebelumnya.

Mengenal Seni Tari

john-arif-kendang-sunda

John Arif (dok: portalmusikmalang)

A. Arif Dwi Widodo adalah nama asli dari John Arif. Lahir di Kota Malang 23 Desember 1966 silam. Masa kecilnya tak jauh berbeda dengan bocah sebayanya. Seperti umumnya dunia anak, doyan bermain dengan teman sepermainan selepas aktivitas pulang sekolah. Itulah kegiatan Arif kecil kala itu.

Ia mulai menyukai dengan dunia seni setelah menginjak kelas 2 di Sekolah Dasar (1974). Adalah seni tari yang mengusik rasa penasaran Arif kecil. Takjub, mungkin itulah yang ia rasakan saat itu. Rasa penasarannya tak hanya sebatas sekedar ingin tau saja, ia ingin belajar. Apalagi orang tuanya sangat mendukung keinginan tersebut. Maka Arif memutuskan untuk belajar kepada seorang guru tari asal Tumpang yang ia panggil dengan nama Cak Soleh.

Kecintaan John Arif terhadap dunia seni bisa jadi karena faktor lingkungan. Depan rumah dimana tempat ia tinggal, Jl. MT. Haryono Gg. VI/82, Dinoyo, Malang, adalah seorang seniman kendang. Pantas saja, ia tak begitu asing dengan bebunyian alat musik tradisional maupun dengan hal yang berbau seni itu sendiri.

Waktupun terus berputar cepat. Kecintaannya terhadap dunia tari tetap ia bawa hingga masuk ke bangku Universitas. Menempuh Jurusan Teknik Mesin Universitas Brawijaya Malang hingga lulus pada tahun 1992. Kecintaan Arif terhadap dunia seni yang lebih didominasi kaum wanita itu makin menjadi-jadi saja. Setelah kelulusannya, ia memperdalam ilmu seni tari untuk menambah kemampuannya dengan berguru kepada seorang sarjana lulusan ISI Jogja yang telah ia kenalnya.

Kerja Kantoran

Namun meskipun demikian, Arif tak melulu berkutat belajar menari. Ia tak ingin mensia-siakan gelar Insinyur dan ilmu akademik yang telah ia peroleh sewaktu kuliah di Jurusan Teknik Mesin saat itu.

John Arif memutuskan untuk bekerja. Sebuah perusahan elektronik terkemuka di Indonesia, Samsung Electronics, menjadi labuhan pertamanya. Tentu saja, sederet tugas dari kantor harus ia kerjakan dan menjadi konsekuensi sebagai seorang karyawan.

Ia rupanya seorang karyawan berprestasi. Berdedikasi tinggi terhadap perusahaan. Jabatan Senior Manager telah nangkring di pundaknya selama ia berkarir di perusahaan tersebut. Mentereng banget rasanya. Tentu gaji berlimpah makin mempertebal isi dompetnya. Borjuis..!

Ditengah kesibukannya sebagai pegawai kantoran, John Arif tetap tak melupakan kecintaanya terhadap dunia seni. Hasratnya tak pernah padam meskipun ia sudah terbilang mapan.

Mendalami Kendang

Tepatnya tahun 2009, menjadi awal mula ia mendalami instrument kendang. Arif mencari referensi berbagai teknik permainan instrument tersebut. Hasilnya, permainan kendang ala Jawa Timuran sempat ia aplikasikan pada 2011 lalu. Arif sangat menikmati aktivitas tersebut meskipun ditengah kesibukannya yang cukup menyita waktu.

Sebagai seorang yang memberdayakan kearifan budaya lokal, Arif mempunyai pendapat mengenai instrument membranophone tersebut.

john-arif-menari

John Arif (dok: portalmusikmalang)

“Kendang adalah pemimpin gamelan di Jawa. Kalau di Sunda, kendang sebagai pemimpin atau pengiring Pencak Silat dan Tarian Jaipong. Lanjutnya, musik gamelan itu mainnya dengan jiwa. Karena musik gamelan itu kalo nggak distop (setelah ditabuh) nggak akan berhenti.” ucapnya saat berkunjung ke Museum Musik Indonesia.

Setelah mempelajari berbagai jenis kendang yang ada di Indonesia, rupanya ia sudah menemukan jati diri permainannya. Arif lebih menyukai kendang sunda. Menurutnya, kendang sunda memiliki interval nada sesuai dengan apa yang dia butuhkan. Dalam arti, mempunyai jangkauan nada yang lebih luas, sehingga lebih nyaman untuk dieksplor.

Perjalanan Arif memainkan kendang sunda tak semulus seperti yang dibayangkan. Ia kerap menerima komplain. “main kendang sunda kok begitu.” ujar Arif saat mengisahkan. Kritik tersebut ia terima, dan menjadi bekal berharga agar menjadi lebih semangat belajar. Arif mengakui, awal bermain kendang sunda memang ia kurang tau. “ternyata ada nada dari kendang jenis Kulantir (ukuran kecil) yang harus ditabuh.” jelas Arif setelah mengamati dan menerima masukan dari para rekan.

John Arif ingin terus mengasah kemampuannya. Ia mulai memperdalam ilmu kendang sunda dengan mendatangi rumah seorang seniman kendang sunda yang tinggal di Cikarang Pusat, Oman Peang, dan sekaligus sebagai pembuat instrument itu. Arif cukup tekun mempelajarinya.

Memutuskan Berhenti Kerja

2015 menjadi tahun pertaruhan bagi perjalanan karirnya. Pasalnya, ia telah memutuskan berhenti dari pekerjaan yang telah digelutinnya selama 22 tahun, rela melepas jabatan mapan setara direktur. Bukan karena dipecat, namun mengundurkan diri demi mendalami, fokus, dan kecintaanya terhadap seni dan budaya negeri ini. Pilihan yang sulit, namun ia merasa mantab memutuskan.

Kiprah John Arif Hingga Sekarang

john-arif-dan-kendang

John Arif (dok: portalmusikmalang)

Ternyata keputusan Arif tak salah. Ia mulai menemukan ritmenya. Nama John Arif mulai dikenal dikalangan para seniman musik modern maupun tradisional. Jam terbangnya makin tinggi saja. Salah satunya, ia pernah ikut tur 10 Kota di Indonesia bersama supergrup negeri ini, Slank. Ia juga terlibat di album Indonesia Kita yang dirilis (2015) di hari Bela Negara dalam sebuah lagu yang berjudul “Indonesia Kita” cipt. Jelly Tobing.

Masih banyak sederet prestasi lainnya yang dilakoni oleh pria yang kini menetap di Cikarang (Bekasi). Ditengah jadwal panggung yang makin padat, dia masih sempat mengelola kedai kopi yang ia beri nama Kopi Rock.

Kini, Arif mulai mengembangkan teknik permainan kendang sunda yang telah ia peroleh sebelumnya. Ia padukan dengan piranti musik modern. Seperti yang ia pamerkan kala mengunjungi Museum Musik Indonesia beberapa waktu lalu. Stick dan Cymbal drum menjadi pelengkap seperangkat kendang yang terdiri dari 1 buah kendang Indung atau induk yang mempunyai ukuran lebih besar, dan 3 kendang Kulantir yang mempunyai ukuran lebih kecil. Bagi John Arif, Stick drum bisa menghasilkan intonasi berbeda kala ditabuhkan.

“Dan aku menyatakan, aku jatuh cinta dengan kendang ini.” – John Arif-

Tak itu saja, John Arif juga sangat piawai menabuh kendang dengan mata tertutup. Berawal dari rasa ingin tau dan penasaran, ia mencoba dan menabuh. Nyatanya, ia berhasil. Tak satupun pukulannya yang meleset saat menabuh kendang-kendang tersebut, seperti yang pernah ia peragakan.

Pengabdiannya terhadap kearifan seni dan budaya lokal sungguh tak perlu diragukan lagi. Pujian pun kerap menghampirinya. Salah satunya dari seorang Anto Baret, “saya sebagai warga Malang, kagum dengan hal ini. John Arif sudah mengawal budaya ini. Jadi bagi siapapun yang mengawal budaya, harus diperhatikan, termasuk oleh pemerintahan setempat”. tegasnya.

John Arif sangat bangga dengan apa yang tengah ia lakoni kini. Seperti yang ia tuturkan, “masyarakat luar negeri sangat mengagumi seni dan budaya bangsa Indonesia. Saya pernah berbincang dengan orang Eropa, orang tersebut menyampaikan, “kalau saya ke Indonesia, saya ingin belajar budaya Indonesia. Karena disini (negerinya) hanya itu-itu saja. Beda dengan di Indonesia, sangat kaya raya akan seni budaya.” kisahnya. (ery/c1/sip).

Info Terkait


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |