Membangkitkan Kembali Gairah Bermusik Di Malang


membangkitkan-kembali-gairah-bermusik-di-malang

Antok GLYPH & Indra Dunawan (dok: portalmusikmalang)

Portalmusikmalang.com - Pada tahun 90an perkembangan musik di kota Malang disebut sangat inovatif. Saat itu banyak muncul band dengan berbagai macam genre dan sub genre musik. Rock, Jazz, Metal dan sebagainya telah menjadi akar dalam tatanan musik di kota yang kerap di sebut sebagai kota angker bagi musisi Ibu kota. Secara lini, kala itu skena musik dikota Malang cukup merata di berbagai tempat seperti kampus, sekolah-sekolah dan beberapa tempat lainnya. Hampir setiap hari, di tempat yang berbeda seringkali digelar berbagai acar musik yang mampu mendatangkan banyak penonton, meskipun hanya event kelas festival ataupun event musik parkir. Namun seiring dengan berjalannya waktu, jaman telah bergeser. Memasuki periode 2004 dst, geliat musik di Malang terjadi penurunan. Event musik skala gigs boleh di bilang mulai jarang digelar. Ada tetapi tidak rutin. Benarkah demikian?

Menjawab semua itu, hari ini Selasa (28/05/2014), portalmusikmalang berkesempatan bertemu dengan tiga narasumber (narsum) untuk sekedar bertukar pengalaman perihal laju dunia musik di kota Malang. Yaitu Eka, Indra Gunawan, dan Antok. Berikut kutipan yang kami rangkum dari penjelasan ketiganya.

Indra Gunawan mengawali dengan pengalamannya, “saat ini memang saya merasakan seperti itu. Kepedulian untuk memajukan musik di kota sendiri telah menurun energinya. Mungkin karena faktor kejenuhan atau entah seperti apa. Terbukti,  bisa di lihat sendiri bukan, acara musik nyaris sepi. Nggak segencar seperti dulu lagi.” ujar Indra seolah bertanya balik.

“Membandingkan dengan tahun 90 an hingga 2004, pada saat itu trend musik Indie seolah tengah menjadi fenomena sendiri dikalangan rekan musisi kota Malang. Banyak bermunculan band baru, dan berlomba-lomba membuat lagu, kemudian merekamnya. Meskipun dengan fasilitas nggak secanggih seperti sekarang ini.” terang pria berkepala plontos itu.

Kompilasi album indie, festival indie, dan berbagai ajang musik lainnya menjadi langganan tiap hari, tiap minggu, di berbagai tempat kota ini. Bahkan pada saat itu tepatnya 2003, salah satu band asal Malang mampu menembus pasar nasional, yakni Flanella. Tentu, sebuah prestasi yang cukup membanggakan kala itu, dan tentunya secara tidak langsung juga mendongkrak nama Malang di percaturan musik Indonesia.

Untuk mengembalikan seperti saat itu, “kita butuh sebuah sinergi yang kompak antar teman-teman musisi, serta para penggiat musik lainnya untuk sudi meluangkan sedikit waktu agar ikut berfikir bagaimana caranya gairah bermusik yang sedang redup ini bercahaya kembali.” terang Indra.

Ditengah perbincangan Eka menimpali, “padahal secara kualitas, musikalitas musisi di kota Malang sudah tak perlu diragukan lagi lho. Banyak yang mampu membuat dan mengemas komposisi musik serta lagu yang tak bisa di pandang remeh.” ujarnya penuh antusias.

Saat kami meminta Antok menjelaskan opininya, “hal klasik yang masih mendasar hingga kini yaitu kurangnya sebuah penghargaan dari outlet kepada kami (musisi). Kerap kali keluhan muncul di kalangan teman-teman saat kami berkumpul membahas hal itu.” ucapnya.

“Kami dibayar dengan harga murah saat tampil reguler pada outlet, padahal bayaran sejumlah itu sebenarnya angka yang lama (membandingkan dengan era 90an), namun faktanya angka tersebut nyaris tak berubah, bahkan ada yang tetap, ironis sekali. Kami juga butuh kehidupan yang lebih baik tentunya. Kita sudah berusaha kompak, membuat standarisasi harga sesuai kapasitas yang ada. Tetapi entah kenapa masih ada juga yang tidak ingin sinergi dengan harapan kami.” tuturya dengan nada protes.

“Kondisi seperti itu bila terus menerus terjadi, maka nggak akan bisa mencapai harapan yang sesuai. Padahal tujuan kami baik bukan?? dan demi kemajuan untuk musisi dikota Malang sendiri, agar kami sebagai musisi pantas di hargai sesuai kualitas dan kapabilitas. Berjaya di kota sendiri, itu impian kami.” terang Antok.

“Hargailah karya seni sebagai nilai yang agung, bukan sebatas karya seni yang sekedar menjadi pelengkap saja.” lanjut Antok sembari mengakhiri perbincangan hangat ini. (ery/c1/sip).


Info Terkait

Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: MALANG | Indonesia | Mancanegara | INFO GEAR | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | IKLAN | Sitemap | Kontak | REDAKSI | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |