Musisi Sandal Jepit, Tak Punya Tuan, Bersenandung Dari Panggung Yang Sempit


kisah musisi sandal jepit

Mr.Sandal Jepit (Foto: portalmusikmalang.com)

Portalmusikmalang.com – Bagi sebuah band atau seniman musik, tampil dipanggung pertunjukan merupakan sebuah kepuasan bak orgasme tanpa tandingan, meskipun hanya dibayar beberapa lembar kertas bergambar gedung dewan terhormat yang semakin ‘menyusut’ saat dibagi beberapa orang dengan sedikit gerutuan “lagi lagi..isi dompet tetaplah kusut”. Sebuah ‘pemaksaan’ yang sungguh ironis tentunya disaat bahan baku naik tajam bak sebilah pisau yang siap mengiris bumbu didapur.

Meskipun demikian, tak semua dari mereka mampu merasakan nikmatnya panggung hiburan, disaksikan para pria dan wanita ataulah para waria. Tak tahu bagaimana caranya menaklukan isi hati tuan, demi merasakan sebuah impian enaknya menjadi superstar meskipun sebatas superstar jadi-jadian. Walau hanya semenit saja dan mereka akan berteriak, Puas!

Sekumpulan seniman musik tadi hanya bisa melongo saja, terpana dan berdecak kagum menyaksikan megahnya panggung pertunjukan, dengan gemerlap lampu sorot dan silaunya sinar lampu laser bak kisah epic dalam film Star Wars yang ramai menjadi bahan perbincangan.

Salah satu narasumber yang sempat kami temui disalah satu sudut kota Malang sebut saja dengan panggilan Mr. Sandal Jepit mengungkapkan apa yang menjadi lukisan dalam hatinya.

“Aku sering membayangkan seandainya ada kesempatan bisa berdiri (dipanggung) dan meneriakkan lirik lirik lagu yang diambil dari karya ciptaku, maka aku sihir mereka dengan suaraku. Tapi aku begitu juga dengan kawan lainnya, hanya bisa bermimpi saja. Selama ini, jalanan inilah yang setia menjadi panggungku dan panggung kami. Terkadang, tak sedikitpun tuan melirik atau si tuan memang pura-pura tak tahu?? Entahlah…!

“Kami bernyanyi untuk urusan yang halal, banyak diantara kami yang menjadi tulang punggung keluarga mereka masing-masing, meskipun hanya berbuntut uang receh yang tak seberapa jumlahnya, namun kami ikhlas menerimanya. Anda bisa melihat teman kami di ujung disana, tak mengenal lelah demi anak dan istrinya.

Kami adalah sahabat, kami adalah saudara, kami satu nasib dan kami satu perjuangan. Berharap kelak, sang pembuat takdir memberikan rezeki yang terbaik. Amin. (er/y).

Notes: Kisah diatas diambil dari fakta yang terjadi dilingkungan sekitar anda. Sosok dan namanya tak ingin dipublikasikan.

Info Terkait


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |