Pendistribusian Ala Selebritis Ini: Warteg Pertama Di Dunia Yang Jual CD Orisinil


iksan skuter tentang pendistribusian

Iksan Skuter, penampilanya khas dengan topi berlogo 1 bintang (portalmusikmalang.com/kipot)

Portalmusikmalang.com – Masih ingat dengan sosok yang ngakunya ‘Selebritis Kurang Terkenal’..? Pada artikel sebelumnya kami sempat membahas dengan doi perihal pentingnya konsep sebelum anda memutuskan untuk membuat band atau melangkah di jalur musik.

Dalam obrolan kami berikutnya, kali ini sosok yang lebih dikenal dengan panggilan Iksan Skuter berbicara banyak seputar pendistribusian,  tak kalah menarik dengan perbincangan sebelumnya, dan kami rasa sangat penting banget menjadi topik bahasan kali ini. Mengapa??

Baca juga: Ketika ‘Selebritis Kurang Terkenal’ Berbicara Pentingnya Konsep Dalam Bermusik

Banyak muncul kasus keluhan perihal pendistribusian terutama di jalur independent/indie. Contohnya,  setelah masuk dapur rekaman dan kelar membuat album.Bbanyak band/musisi bertanya, mau di bawa kemana album ini selanjutnya? mau dijual door to door tentunya bakal membuat pekerjaan anda makin jadi ribet bukan? Nah bagaimanakah caranya? penasaran? anda musti simak perbincangan kami berikut ini.

Berkaca pada pengalaman anda, bagaimana cara anda mendistribusikan (dalam konteks independent) album pertama ‘Partai Anjing’ dan termasuk yang baru nanti??

Untuk pendistribusian tetap menggunakan jaringan sih, kemarin sempat ada wacana menggunakan jasa salah satu label independent ternama dari Jakarta, cuman karena pemintaan kemasan lux dari pihak label akhirnya saya cancel. Karena costnya tinggi.

Akhirnya, saya sampaikan hal ini ke salah satu label independent lokal (Malang) yang tentu bisa mendistribusikan album terbaru nanti “Seandainya album terbaruku menggunakan jasa distribusi anda bisa ngga? meskipun CD ku dibungkus ‘daun pisang’ (ibaratnya) nggak masalah. Intinya adalah saya tetap produksi dan memakai jaringan yang sudah kita punya.

Jaringan yang anda maksud itu seperti apa sih? bisa anda jelaskan??

Kebetulan saya mempunyai jaringan (semacam outlet) di berbagai kota indonesia, dan semua itu awalnya terbentuk dari pertemanan yang cukup militan pergerakanya. Maka dari itu, perbanyaklah teman, jalin hubungan silaturahmi dengan teman-teman yang ada diluar kota malang.

Baik, sebagaimana kita ketahui, Pendistribusian itu nggak lepas dengan apa yang namanya OUTLET, seperti umumnya pada music label skala Major yang tentunya sudah mempunyai jaringan outlet ternama. Sedangkan bagaimana dengan Label Independent?

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, album terbaru saya akan menggunakan Label independent asli malang, yang tentunya mereka nggak mempunyai outlet ternama/besar seperti di perusahaan Major Label. Tetapi jika menilik pada pengalaman saya di album pertama, outlet bisa di ciptakan dengan membangun system jaringan yang kuat.

Begini ceritanya: Saat saya di jakarta, kebetulan saya mempunyai langganan warteg, kebetulan yang jagain warung itu seneng banget dengerin musik. Setiap kali makan disitu, setel musik kenceng banget, idolanya salah salah band ternama negeri ini. Munculah ide dalam benak ini, saya ajak ngobrol dan menawari si penjaga warung bernama Ari tersebut,

“Ri..mau gak kamu jual CD albumku di sini (warteg)”, eh rupanya..si Ari pun merespon tawaranku.

Akhirnya, saya kasih CD album pertama tadi ke dia, dan saya bilang,

“Kamu jual 30ribu, nanti kamu dapat 10ribu, nah…kalau misal sehari laku dua, kan lumayan bisa dapat dua bungkus rokok, menarik bukan??!

Ari pun nampak girang banget dengan hal ini. Terus saya bilang juga ama dia,

“Jangan lupa ar, lagu-lagu dalam albumku kamu putar setiap hari, jadi saya minta maaf kamu jangan putar dulu band ngeTOP idolamu itu tadi”.

Si ari pun menimpali permintaan saya,!!

“Wah berarti Wartegku ini kayak salah satu gerai makan ayam goreng terkenal itu ya mas iksan”??!!

Dan saya pertegas pula, “Iya..Wartegmu ini Warteg pertama kali di Dunia yang jualan CD orisinil, dan ini Warteg Pionir”

Wah mantap pula idemu iksan hehehehe, kemudian bagaimana hasil penjualan dari ‘OUTLET’ yang boleh dibilang rada ‘nyeleneh’ ini?

Pada akhirnya meskipun dari segi nominal nggak terlalu banyak, tetapi setidaknya hal ini bisa menjadi salah satu wacana (baru), bahwa pendistribusian itu bisa dimana saja, bisa di jenis outlet manapun saja. Terbukti bukan? dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan sekelas MAJOR LABEL ternama (tanpa menyebut ‘merk’), jaringan penditribusian mereka menggunakan salah satu gerai ayam goreng ternama di indonesia, meskipun menurutku terkesan janggal, karena dipaksakan. Bill/tagihan dari pembelian dijadikan satu paket dengan penjualan CD album, jadi beli ayam goreng sekian ribu rupiah dapat satu CD Album.

(Antara MUMET dan KREATIF bedanya tipis ditengah pembajakan yang menggila di negeri ini dan ditambah lesunya industri musik indonesia. Nasib Pahlawan Musik yang seolah terlupakan)

Terlepas dari hal tersebut, “Mereka aja bisa”. Dengan cara memaksimalkan potensi kantong-kantong kafe yang tersebar dan yang memang ‘Pro kita’.

Bisa anda jabarkan lebih jelas apa yang anda sebut sebagai Kantong kantong / Pro Kita tadi?

Misal nih, di malang ada 3 titik kafe yang bisa menampung (pro pendistribusian) dengan paket bundling CD. Beli menu seharga sekian dapat bonus satu CD, itu kan juga bisa. Dengan pola seperti itu, saya rasa band-band dimalang atau kota lain nggak akan bingung jual CD album mereka, selain lewat jalur label musik independent seperti yang saya sampaikan sebelumnya.

iksan and trio

Iksan Skuter/kanan. Saat bersama Buluk ‘Superglad’ dan Chipeng ‘Begundal Lowokwaru’ (portalmusikmalang.com)

Tinggal bagaimana aja caranya menjalin hubungan dengan pihak-pihak terkait dan tentunya jangan se kaku seperti gerai ayam goreng tadi. Selain itu, bisa juga juga memaksimalkan warung-warung di dekat kampus, tawarkan kerjasama yang saling menguntungkan seperti yang sudah pernah saya lakukan. Jadi ada nominal ekonomi yang seimbang (Simbiosis Mutualisme).

Dengan strategi seperti di atas, tentunya band bakal makin produktif bukan? dan terangsang untuk terus makin berkarya. Hal tersebut rasanya berlaku bagi band yang sudah mapan secara ekonomi (menghasilkan). Sedangkan bagaimana nasib band/musisi yang secara ekonomi belum kuat? mau rekaman aja nggak ada duit, bagaimana mereka mau produktif??

Benar, memang tidak bisa di pungkiri hal tersebut sepaket dengan urusan duit itu pasti. Hal ini juga pernah terjadi/muncul pertanyaan terhadap saya sendiri, saya jawab gini “Lha kamu kira aku ini ada duit juga”?? kita harus yakin, dan saya mengharap teman-teman tidak merasa pesimis dengan keterbatasan finansial.

Saya percaya hal ini “Kalau ibarat orang yang padat karya, maka harus ketemu sama orang yang padat modal, Orang yg padat karya selalu identik ‘miskin modal’ (meskipun tidak semua), begitu juga sebaliknya.

Nah…sekarang tinggal bagaimana cara mengklopkan/mensinergikan dua arah tadi, terkait pengalamanku, saya selalu mencoba presentasi kepada orang-orang yang berkapasitas untuk saya jadikan investor disini dengan perhitungan ekonomi yang jelas tentunya.

Presentasi kepada investor apalagi mengenai Produk Non FISIK (jual lagu) tentu tak semudah jualan Produk FISIK yang nyata pastinya, apa yang iksan lakukan sehingga investor menjadi percaya terhadap anda??

Waktu presentasi tadi, bicarakan karakter dari produk anda, jelaskan seperti apa segmentasinya, pasarnya bagaimana, packagingnya bagaimana, kemudian kemasan issue seperti apa yang akan dibuat, dan lainya. Pada intinya bagaimana tugas kita meyakinkan agar investor tertarik untuk menjadi executive producer karya kita, tentu sesuai kapasitas yang ditawarkan. Nah…bagiku ini yang di sebut indie banget.

Baik iksan, menyenangkan sekali bisa ngobrol santai dengan anda, next kita lanjut dengan obrolan yang lebih asik lagi. Terimakasih sebelumnya.

Nah updaters, dari obrolan di atas tentu anda bisa menarik kesimpulan sendiri. Banyak cara bagi anda untuk mendistribusikan karya/album/CD. Bagi secara digital ataupun seperti yang iksan sampaikan di atas. Bahkan di warungpun bisa, di kafe pun juga bisa. Begitu juga perihal urusan ingin produktif dalam membuat karya, jangan pesimis dengan yang namanya isi dompet. Jika karyamu memang hebat, idemu hebat, tak segan bagi mereka para pecinta maupun penggila ide/karya akan menghargai yang terbaik untuk anda. <Er/y>.

Info Terkait


Bagaimana Menurutmu?

comments

One Response
  1. Gita 10/05/2017 Reply

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |