Perbedaan Potensiometer 250K, 500K dan Pengaruhnya


perbedaan dan pengaruh nilai potensiometer

Potensiometer

Portalmusikmalang.com – Mengenal apa yang disebut dengan potensiometer, adalah resistor tiga terminal dengan sambungan geser yang membentuk pembagi tegangan yang dapat di atur. Jika hanya dua terminal yang digunakan (salah satu terminal tetap dan terminal geser), potensiometer berperan sebagai resistor variabel atau Rheostat. Potensiometer biasanya digunakan untuk mengendalikan peranti elektronik seperti pengendali suara pada penguat. Nah, pada gitar atau bass, kita sering menemukan Potensiometer yang berfungsi sebagai Volume dan Tone pada rangkaian elektroniknya atau yang sering disebut dengan istilah Wiring.

Dalam sebuah gitar elektrik, jika anda pernah punya kesempatan membuka pada bagian elektroniknya, maka sering kita jumpai yang disebut sebagai Potensiometer tersebut dengan berbagai macam nilai resistance ratings (K-Ohms). Pada umumnya gitar dan bass pasif menggunakan nilai 250K dan 500K. Lantas sering terlintas pertanyaan seperti berikut, apakah perbedaan kedua nilai tersebut? seberapa pengaruh nilai tersebut terhadap sound maupun tone? Baik, kita mengambil sebuah contoh yang sering kita jumpai dikalangan para gitaris.

Si A mempunyai gitar merk X-Series dengan konfigurasi pickup HSH (Humbucker neck & bridge – Single coil middle). Gitar tersebut terbuat dari Alder pada body serta Maple di neck maupun fingerboard. Untuk elektronikya, menggunakan pickup berbasis PAF pada Neck dan Bridge, dan sebuah pickup Single coil berbasis custom wound di posisi middle. Sebagai penguat suara, Potensiometernya menggunakan nilai 250K pada Pot Volume dan Tone.

Dengan melihat konfigurasi keseluruhan, secara ‘rumus kayu’ dan konfigurasi pickup, sudah bisa ditebak atau kita duga, gitar tersebut pasti akan terdengar dengan sound yang bright secara akustik (dugaan sebelum mencoba dalam amplifier). Lantas si A mulai plug and play pada sebuah amplifier, namun sound yang keluar ternyata tak sesuai harapan. Pada posisi middle dengan pickup Single coilnya, si A merasa sudah nyaman dengan karakter Twangky-nya, namun saat mencoba suara pada pickup humbucker Neck dan Bridge ia merasa tidak puas. Sound yang keluar cenderung warm namun lebih dark. Kenyataan tersebut tak sesuai yang ia duga. Mengapa ini bisa terjadi?

Bagi beberapa gitaris maka akan merasa rewel dengan output sound ataupun tone yang tidak sesuai dengan ekspetasinya. Lantas dimanakah letak kesalahan kasus diatas? padahal sudah mencoba mengganti dengan beberapa jenis pickup, namun tetap tak menghasilkan sound yang tepat.

Banyak kasus sering terjadi pada penempatan nilai Potensiometer yang tidak sesuai. Hal ini sering banget diabaikan dan dianggap remeh. Padahal banyak artikel menjelaskan, Potensiometer sangat berpengaruh besar terhadap karakter pickup, yang berimbas pada sound dan tone. Lantas bagaimana solusinya dengan kasus si A?

Akhirnya si A mengganti Potensiometer yang sudah terpasang sebelumnya (250K) dengan menggunakan nilai lebih besar yakni 500K, dan hasilnya ternyata luar biasa. Outputnya jadi lebih Full terutama pada bagian neck dan bridge, serta menghasilkan frekuensi yang balance. Secara Clarity juga menjadi lebih tebal dengan sound yang lebih clear dan punchy. Lalu bagaimana dengan sound pada pickup Single coil di middle? Tentu berubah, seakan menjadi ‘korban’, dengan perubahan nilai potensiometer yang semakin besar, sound yang dihasilkan yang awalnya Twangky (saat masih 250K) maka akan menjadi lebih over bright (saat diganti 500K).

Nah, dari pembelajaran kasus di atas kita bisa menemukan, ada dua nilai standard yang menjadi rumus baku dalam sebuah wiring elektronik pada gitar dan bass, yakni.

1. 250K direkomendasikan untuk pickup Single Coil (jenis pickup yang bright) dengan konfigurasi klasik S/S/S atau S/S.
2. 500K direkomendasikan untuk pickup Humbucker (jenis pickup yang mellow / dark). H/S/H atau H/H.

Dari kedua nilai tersebut bisa kita ambil kesimpulan, semakin besar nilai sebuah potensiometer, maka akan semakin banyak pula frekuensi treble yang dihasilkan. Pemasangan nilai potensiometer yang tepat maka akan menghasilkan output sound dan tone yang sesuai dengan frekuensi. Semoga bermanfaat. (er/y).

Info Terkait


Bagaimana Menurutmu?

3 Comments
  1. mestha 06/03/2017 Reply
    • dian 30/06/2017 Reply
  2. dian 30/06/2017 Reply

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |