(Review) Buffer Vs True Bypass By Rangga


(Review) Buffer Vs True Bypass By Rangga

Foto: Buffer & True ByPass ©turretboard.knucklehead.dk

Portalmusikmalang.com – Anda gitaris/ bassist yang menggunakan beberapa efek stompbox di pedalboard? Sering pakai kabel instrumen lebih dari 1,5 meter? Beli efek mahal tapi sound-nya tak sesuai harapan ketika masuk di pedalboard? Mungkin artikel ini bermanfaat untuk Anda. Tetapi kalau Anda memakai efek digital prosesor/ multi-efek saja, lewati saja artikel ini. Saya ikhlas lahir batin.

Sebelum saya bahas lebih lanjut, saya mau tanya beberapa hal. apa itu buffer? Apa fungsinya? Apa pengaruhnya? Kalau ternyata sudah paham, saya tidur saja.

Well, buffer berfungsi sebagai penguat sinyal. Dialah yang mengembalikan kekuatan sinyal dari yang sebelumnya lemah menjadi kembali seperti semula. Bahkan lebih baik (harus diingat dulu bahwa buffer berbeda dengan booster). Kenapa sinyal bisa lemah? Jadi begini, katakanlah di sebuah sore hari yang indah Anda sedang menyiram kebun depan rumah Anda dengan selang air. Makin panjang selang air yang Anda pakai, makin lemah semburan airnya kan? Jangan protes ke PDAM dulu. Hal biasa yang Anda lakukan adalah menutup sedikit ujung selang dengan jari untuk meningkatkan tekanan air agar air bisa menyembur kencang ke … apapun yang Anda ingin siram (asal jangan istri Anda! Beneran!). Seperti itulah fungsi buffer. Tanpa buffer, sinyal instrumen dan jajaran efek Anda tak akan punya cukup tenaga untuk sampai di amplifier. Buffer yang bagus membuat jajaran efek Anda kembali hidup dan memberikan tonal yang sesuai dari instrumen dan efek-efek Anda ke amplifier.

Kemudian apa penyebab sinyal ini menjadi lemah? Instrumennya kurang mahal? Amplinya kurang gahar? Salah efeknya? Salah susunan efeknya? Salah Jokowi? Pacar Anda kurang cantik? Atau cicilan kredit Anda belum lunas? Bukan. Bukan itu. Biang utamanya adalah capacitance. Capacitance adalah kemampuan untuk menyimpan energi/ sinyal/ frekuensi dan kapasitor pelakunya. Penjarakan dia!

Kapasitor tidak selalu berupa item elektronik mungil (Tak selalu mungil, sih. Beberapa ada yang sebesar jempol orang dewasa. Bahkan lebih) yang mempunyai nilai capacitance yang dilambangkan dengan farad. Kapasitor bisa berupa kabel, switch, jack, timah, komponen PCB, dan masih banyak lagi. Mereka-mereka ini yang menghambat sinyal, bahkan merubah kualitasnya. Proses dan hambatan yang banyak inilah yang kemudian merubah struktur gelombang sinyal. Tak peduli Anda memakai stompbox-stompbox efek, instrumen, dan amplifier berharga mahal, sinyal yang menjadi lemah ini kemudian didengar dan diterjemahkan menjadi ‘muddy’, ‘coloured’, atau apalah itu istilahnya, yang kemudian Anda dengar bukan lagi suara asli dari instrumen dan efek-efek Anda. Clarity-nya hilang, mengalami tonal loss atau menjadi terlalu bias.

Sebenarnya dengan mengganti kabel wiring di dalam instrumen dengan kabel khusus wiring yang bagus macam vintage cloth/ braided cable yang dipakai pabrikan instrumen seperti Fender atau Gibson, memakai kabel instrumen yang orisinil (bukan KW abal-abal), atau memakai jack dan switch yang terpercaya dalam prestasi sudah sedikit menolong mengurangi nilai capacitance (dan juga noise!). Sound instrumen Anda menjadi jauh lebih baik. Tapi apakah cukup? Belum. Karena kabel sebagus apapun di pasaran nilai capacitance-nya masih ada. Ini adalah prinsip fisika bahwa sinyal akan semakin kehilangan ‘energi’-nya ketika harus menempuh jarak yang semakin panjang.

Sedikit pencerahan hadir dari efek pedal itu sendiri. Pernah dengar True Bypass? Nah, True Bypass adalah sistem switching dalam pedal efek yang memungkinkan sinyal dari input langsung menuju output tanpa colouring. Tanpa hambatan. Terdengar indah jika Anda hanya memakai 1 efek ber-True Bypass dengan memakai kabel yang tak terlalu panjang. Kemudian tambahkan 1 stompbox lagi … dan lagi … dan lagi … dan seterusnya. Katakanlah Anda punya 5 stompbox dan 4 kabel jumper kualitas bagus untuk menggabungkan semuanya, itu berarti paling tidak Anda sudah menambahkan 1,5 meter panjang kabel. Anggap saja Anda memakai kabel yang bagus, Anda masih tetap medengar yang namanya frequency loss. frekuensi high seperti di-cut tanpa seijin Anda. Amplifier mahal Anda yang ‘sparkling’ tidak terdengar lagi. akan terdengar jauh berbeda ketika Anda mencolokkan kabel instrumen Anda langsung ke amplifier. Inilah jawaban mengapa banyak sekali yang mempertanyakan kualitas sound yang berbeda antara sound ketika mencoba 1 efek langsung ke ampli dengan sound yang dihasilkan ketika menggabungkan beserta jajaran pedal efek yang lain.

Berita baiknya, ada jalan keluar untuk segala keruwetan ini.

Yes, buffer!

Beberapa buffer sudah include di pedal efek itu sendiri. Agar tak terjadi too much coloured dan clarity, terutama di high frequency, tetap terjaga. Beberapa pabrikan efek membuat stompbox-nya dengan buffer yang bagus. Banyak orang mempermasalahkan pedal efek yang ber-buffer. Well, memang, pabrikan efek macam Boss membuat efek ber-buffer yang relatif bagus. Tapi tak jarang beberapa efeknya memiliki buffer yang ‘sekenanya’. Pabrikan semacam DOD dan lainnya, beserta banyak pabrikan efek ‘ekonomis’, malah memiliki jajaran efek ‘ber-buffer payah’.

Beberapa efek yang punya ‘buffer payah’ diantaranya:
– Digitech Whammy
– Boss SD-1
– Line 6 Tone Cores
– Jim Dunlop Crybaby dan Vox Wah
– Vintage Electro Harmonix
– dan efek-efek jadul yang tak punya switching system yang bagus
Kalau Anda punya salah satu atau beberapa item di atas, tenang saja. Tak usah bersedih hati. Seperti mengganti switching system-nya dengan True Bypass sudah mengatasi masalah. Harus dicatat, bahwa sebagian efek akan kehilangan ‘jati dirinya’ ketika di-convert ke True Bypass. Sebagian efek yang lain suaranya menjadi lebih ‘bernyawa’, seperti Iwan Fals.

Solusi lain yang paling ampuh adalah menambahkan pedal buffer independen di rangkaian efek Anda. JHS menyediakan bermacam-macam buffer, seperti Little Black Buffer, Buffered Splitter (output-nya ada 2!) dan Prestige (buffer + booster). Ada Emerson dengan Concorde Utility-nya. Sedangkan Cmatmods dengan Buffer. Atau Epigaze Audio dengan Neutrino dan Neutrino Quark-nya.

Untuk pemasangan, buffer biasanya dipasang di awal rangkaian efek/ pedalboard Anda. Jadi, instrumen – buffer – efek blablablaamplifier. Ada juga yang memasangnya setelah pedal wah. Bertujuan agar karakter sound pedal wah yang dipakai tidak berubah. Ada juga yang memasangnya di akhir rangkaian efek. Ada pula yang punya duit lebih memakai 2 buah buffer, diawal dan diakhir rangkaian efek. Khusus yang terakhir ini biasanya mereka-mereka yang pedalboard-nya berisi lebih dari 10 stompbox. Sebenarnya tidak ada rumus yang pasti di mana buffer semestinya dipasang. Karena sound yang ingin dihasilkan masing-masing player sangat beragam. Pemasangannya sangat tergantung dengan selera player, dan sound seperti apa yang ingin dicapai.

Oh, iya. Satu hal lagi sebelum bubaran. Buffer ternyata bisa mengganggu sound yang dihasilkan efek distorsi Fuzz. Jika Anda pecinta distorsi Fuzz dan memasang buffer sebelum pedal Fuzz, bersiaplah untuk kecewa. Pedal Fuzz Anda tak akan seseram dahulu kala. Ini juga berlaku untuk beberapa efek drive, seperti distortion atau overdrive. Banyak orang merekomendasikan untuk memasang buffer setelah Fuzz atau efek drive yang karakternya sudah Anda cintai.

Buffer: harus atau tidak? Well, ini bukan pedal-yang-harus-dimiliki-sejuta-umat-di-dunia. Kalau anda merasa tone suck dengan sound yang dihasilkan instrumen dan efek-efek yang nda pakai, tidak ada salahnya menambahkan buffer atau sekedar upgrade wiring instrumen Anda. Just worth it. Tapi kalau Anda merasa baik-baik saja dengan apa yang sudah Anda miliki, tidak ada salahnya untuk bersyukur kan?

Selamat mencoba!

Penulis : Zeruya Anggraita (Gitaris Jenar & Contributor Portalmusikmalang.com)

Source Articels :
https://www.jhspedals.com
https://beavisaudio.com
https://www.stinkfoot.se
https://www.petecornish.co.uk
https://www.vonlehmannengineering.com


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |