Saat Transfer Energi Bersimbah Peluh Kepuasan Dalam Road To Malang Underground Fest


ANTIPHATY panaskan malang underground fest

Pertempuran sengit di Malang Underground Fest (Foto: portalmusikmalang,com)

Portalmusikmalang.com – Godbless Cafe-2 yang terletak dikawasan Blimbing, Malang terguncang hebat oleh 12 band cadas dalam pertunjukan musik yang bertitelkan “Road To Malang Underground Fest” Minggu malam 6 Maret 2016. Hari itu menjadi tonggak kesuksesan sebuah ajang musik cadas dalam skena musik underground di kota Malang seperti death metal, punk, hardcore dan grindcore dalam satu panggung pertunjukan yang dikemas dan dikonsep apik oleh penggagas event, Total Suffer Community (TSC).

Seperti yang sudah pernah diberitakan sebelumnya, Event tersebut merupakan ajang perdana dari TSC  setelah 20 tahun membangun pondasi konser musik underground di kota Malang yang diawali dengan sebuah konser pada tahun 1996 di gedung Sasana Asih YPAC itu.

Seperti halnya pertunjukan musik yang berenergi kuat, Sound gahar penuh tenaga serta distorsi padat nan galak menjadi senjata utama untuk membombardir telinga para penonton yang terlihat sangat menantikan dan menikmati dengan gairah membara dalam event tersebut. Dibuka penampilan berbahaya dari band yang dikawal oleh tiga pria yang menamakan dirinya Hellsoil, menjadi alrm tanda penonton siap-siap menerima tumpahan energi pada hari itu.

road to malang underground fest ft 1

Malang Underground Fest (Foto: portalmusikmalang.com)

Tak pelak lagi, area pertunjukan menjadi ladang pertempuran bagi para penonton dalam meluapkan emosinya, menjadi ajang ritual moshing yang seru sekali. Suasana makin luar biasa, saat band-band cadas lainnya turut menggelontor keringatnya dalam stage yang tak seberapa luas tersebut.

Sebut saja nama Extreme Decay, band lawas yang terbentuk sejak tahun 1998 ini tampil full power dengan beat-beat musik keras yang mereka suguhkan. ‘Penyiksaan’ itu tak berhenti disitu saja, kala band-band lain menyusul seperti Delirium Carnage, Fallen To Pieces, Misanthropic Imperium turut menghajar panggung untuk menutup sesi pertunjukan pertama sebelum break untuk rehat sejenak.

Menarik, penonton tak hanya disuguhi penampilan hebat oleh band-band cadas asal Malang tersebut, berbagai ajang kreativitas yang terkait dengan skena musik underground seperti merchandise booth, eksebisi tato, pameran desain dan artwork menjadi hal yang cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja. Antusiasme para pengunjung dalam mengapresiasi event tersebut sungguh luar biasa. Info yang kami peroleh dari salah satu panitia, tiketpun terjudal ludes tak tersisa.

Usai diturunkan sejenak adrenalin para penonton, kembali melanjutkan pertunjukkan, Breath Of Despair disusul Anorma dan Neurosesick membuat suasana yang sempat mendingin sejenak langsung panas seketika. Ketiga band tersebut mampu tampil hebat dengan segala musikalitas dan sound yang mereka geber. Gelombang penonton yang berputar bak pusaran air menjadikan ‘atmosfir chaos’ malam itu sangat Crodws. Luar biasa, seperti yang disampaikan oleh salah satu penonton disamping tim portalmusikmalang.com saat kami tanyakan apa yang ia rasakan, “Saya merinding banget, merasakan atmosfir masa silam kembali lagi pada hari ini, band-band yang tampil luar biasa.” pungkas sosok bernama Andi itu.

road to malang underground fest ft 2

Malang Underground Fest (Foto: portalmusikmalang.com)

Hingga pada akhirnya penampilan empat nama band terakhir, Bangkai, No Man’s Land band yang baru mencatatkan namanya dalam 15 album terbaik versi American Oi! 2015 lalu, disusul penampilan dahsyat dari Rottenomicon dan Antiphaty tak mampu membendung emosi mereka untuk tampil maksimal dihadapan pengunjung yang diperkirakan mencapai 700 orang lebih tersebut. Liar namun terkendali, menjadikannya sebuah tatanan konstruksi pertunjukan berkelas, luar biasa.! Salut.

Yang menjadi perhatian dan catatan dari kami salah satunya, penonton yang hadirpun tak hanya dari kalangan anak muda saja, namun tampaknya dari mereka banyak yang sudah berumur bahkan tak segan membawa putra dan putrinya ke ajang tersebut, seolah mengenang sebuah kisah peradaban musik bawah tanah saat ia pernah berforia kala masih muda dulu. Melanjutkan energi masa silam yang sempat terhenti sejenak, hingga mampu menuangkannya kembali dalam pertunjukkan yang memang sudah lama dinantikan. Musik memang menjadi bahasa universal bagi siapapun mereka, juga menjadi tansfer energi yang tak pernah putus kala ia mampu merasakan dan menikmatinya, seperti dalam catatan siaran pers yang diterbitkan TSC, “ajang ini setidaknya bisa mengangkat gairah anak-anak muda kota Malang dalam membangun komunitasnya secara mandiri, serta mampu menciptakan peradaban budaya bermusik yang berkarakter kuat.” (ery/c1/sip).

Info Terkait


Bagaimana Menurutmu?

Komentari Artikel Ini

Your email address will not be published.

Berita: Malang | Indonesia | Mancanegara | Info Gear | FaMoooSsss | Info Event | Foto | Kami | Iklan | Sitemap | Kontak | Redaksi | Pedoman Penulisan Siber | Kode Etik Jurnalistik |